Malam itu suasananya terasa beda. Bukan sekadar malam biasa. tapi karena kami sengaja menyambut tahun baru Islam. Sederhana saja: hamparan daun pisang di tengah ruang, aroma yang menggoda masakan ndeso yang terhidang, nasi hangat, dan lauk seadanya yang bikin perut langsung “keroncongan” minta diisi.
Daun pisang hijau panjang jadi alas makan. Di atasnya, nasi putih ditata memanjang, dihiasi lalapan daun kemangi, timun, sambal tomat yang mengintimidasi dari kejauhan, ikan wader goreng kriuk, udang renyah, plus kerupuk uyel yang selalu jadi rebutan pertama. Nggak ada piring, nggak ada sendok, semua tinggal duduk melingkar, siap melahap makanan yang terhidang.
Di luar, malam terasa hening. Tapi di dalam rumah, penuh dengan kehangatan. Setiap suapan bukan cuma isi perut, tapi juga isi hati. Ada rasa syukur yang mengalir, rasa senang bisa menikmati pergantian tahun baru islam, dan terselip doa-doa kecil yang terucap diam-diam di hati masing-masing yang penuh harapan.
Malam tahun baru Islam ini kami rayakan tanpa pesta kembang api, tanpa hingar-bingar musik. Justru dengan cara sederhana: duduk melingkar, makan di atas daun pisang. Sungguh, kebahagiaan ternyata nggak perlu mewah. Cukup nasi hangat, sambal pedas, dan orang-orang tercinta.
Dan malam itu, aku sadar satu hal: momen sederhana kadang justru jadi kenangan paling berharga. Tahun baru Islam kali ini bukan cuma pergantian waktu, tapi pengingat untuk lebih dekat, dan lebih penuh syukur.

Posting Komentar
Posting Komentar